Rabu, 20 Juli 2011

Parabolic SAR

Dalam mekanisme trading, pengalaman ditentukan oleh kemampuan trader dalam mengantisipasi pergerakan harga tertentu dan khusus dari sebuah produk keuangan. Banyak sekali indikator yang bisa digunakan untuk memprediksi pergerakan harga, tetapi tidak banyak yang bisa terbukti berguna dan mudah untuk di interpretasikan seperti parabolic SAR, apalagi untuk momentum jangka

Dalam mekanisme trading, pengalaman ditentukan oleh kemampuan trader dalam mengantisipasi pergerakan harga tertentu dan khusus dari sebuah produk keuangan. Banyak sekali indikator yang bisa digunakan untuk memprediksi pergerakan harga, tetapi tidak banyak yang bisa terbukti berguna dan mudah untuk di interpretasikan seperti parabolic SAR, apalagi untuk momentum jangka pendek.

Salah satu keunggulan utama dari indikator ini adalah tingkat kemudahan interpretasinya. Dalam artikel ini, kita akan coba melihat dasar-dasar yang digunakan dalam indikator ini dan mencoba menunjukkan aplikasinya dalam strategi trading.

Definisi
Parabolic SAR adalah indikator teknikal yang digunakan oleh banyak trader untuk menentukan arah dari momentum harga dan titik dimana momentum ini memiliki probabilitas yang lebih tinggi dari keadaan normal untuk berganti arah, khususnya untuk momentum jangka pendek. SAR adalah kepanjangan dari 'stop and reversal’.

Gambar 1

Parabolic SAR


Indikator popular ini dikembangkan oleh seorang ahli teknikal terkenal, WellesWilder, yang juga menciptakan relative strength index, dan indikator ini ditunjukkan dalam serangkaian titik-titik yang ditempatkan diatas atau dibawah pergerakan harga dalam sebuah grafik.

Parabolic SAR adalah sebuah indikator yang mengikuti tren, yang didasarkan pada teori bahwa sebuah tren yang kuat akan terus mengalami kenaikan kekuatan selama periode tertentu dan nantinya akan diikuti oleh pergerakan parabolik.

nterpretasi
Formula untuk mengkalkulasi indikator ini memang cukup rumit, tetapi interpretasi relatif mudah, bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Titik-titik dibawah pergerakan harga mengindikasikan adanya momentum kenaikan dan titik-titik diatas pergerakan harga mengindikasikan potensi momentum penurunan.

Salah satu aspek yang harus diingat adalah posisi dari titik-titik ini nantinya akan digunakan dalam menentukan posisi pasar, tergantung dimana letaknya dibandingkan oleh pergerakan harga. Titik yang berada dibawah harga diinterpretasikan sebagai sinyal bullish dengan ekspektasi momentum masih dalam arah kenaikan. Sebaliknya, titik dibawah harga diinterpretasikan bahwa bearish sedang dalam kontrol dan kemungkinan masih akan bergerak turun.

Gambar 2

Parabolic SAR


Entry point pertama untuk posisi beli adalah ketika kisaran harga tertinggi terkini berhasil ditembus, disaat ini biasanya parabolic SAR akan berada dilevel kisaran harga terendah. Seiring dengan naiknya harga, titik-titik SAR nantinya akan mengikuti kenaikan, pertama denga lambat lalu kecepatannya mengalami kenaikan dan berakselerasi dengan tren. Sistem akselerasi ini akan bisa membuat trader dan investor untuk memperhatikan perkembangan tren dan pembentukannya. SAR akan bergerak lebih cepat bersamaan dengan tren yang terus menguat dan titik-titik SAR akan segera menyusul pergerakan harga. Indikator ini akan bekerja dengan baik dalam kondisi pasar yang trending, tetapi bisa menghasilkan banyak sinyal 'palsu' ketika harga bergerak sideways.

Perpindahan momentum terjadi ketika terjadi ‘cross over’ antara titik-titik parabolic dengan harga. Momentum naik berubah menjadi momentum turun ketika titik-titik parabolic yang tadinya berada dibawah harga, berubah menjadi diatas harga, dan begitu juga sebaliknya.

Trending Market atau Sideway?
Indikator ini sangat berharga karena merupakan metode paling mudah yang tersedia untuk menempatkan posisi stop-loss order. Reputasi ini terbangun dalam indikator ini khususnya dalam pasar yang trending. Karena inilah indikator ini sangat sering digunakan dalam membuat posisi short-selling.

Penting diingat bahwa indikator ini bersifat mekanis dan akan selalu mengasumsikan bahwa trader memiliki posisi beli dan jual. Kemampuan dari parabolic SAR merespon perubahan kondisi menghilangkan semua emosi manusia dan membuat trader untuk disiplin. Tetapi disisi lain, menggunakan indikator ini dalam periode konsolidasi bisa menghasilkan sinyal-sinyal yang tidak akurat.

Gambar 3

Parabolic SAR


Pada gambar 3 terlihat bahwa parabolic SAR menghasilkan sinyal-sinyal yang akurat pada kondisi pasar yang sedang bergerak dalam keadaan tren.

Karena memang indikator ini lebih cocok ketika digunakan dalam pasar yang sedang bergerak satu arah atau trending market, maka disarankan untuk mengkonfirmasi dahulu apakah pasar sedang dalam keadaan tren atau tidak. Untuk itu, kita harus bisa terlebih dahulu dalam melakukan analisa tren pasar.

Kondisi pasar yang sedang bergerak sideway atau konsolidasi akan sering menghasilkan sinyal-sinyal yang tidak akurat, karena titik-titik parabolic akan dengan mudah dan cepat berganti momentum diatas atau dibawah harga.

Gambar 4

Parabolic SAR


Perhatikan dalam gambar 4, pasar yang sedang dalam keadaan konsolidasi setelah penurunan tajam, atau bisa dikatakan bergerak sideway pada kisaran tertentu, parabolic SAR cenderung memberikan indikasi dan sinyal yang kurang akurat.

Sinyal yang dihasilkan oleh parabolic SAR memungkinkan trader untuk bisa memanfaatkan pembentukan tren lebih awal. Jika tren gagal terbentuk, titik-titik parabolic akan beralih dan berganti posisi baik diatas maupun dibawah harga. Nah, karena itulah akan menghasilkan sinyal stop and reversal.

Penutup
Parabolic SAR adalah indikator yang mumpuni untuk menyediakan sinyal masuk dan keluar pasar. Sinyal beli dan jual akan dihasilkan dari perpindahan titik-titik parabolic terhadap harga. Indikator ini juga bisa dimanfaatkan untuk bisa mengenali tren pasar lebih awal.

Walaupun begitu, indikator ini memiliki kekurangan ketika pasar sedang bergerak sideway atau konsolidasi. Sinyal-sinyal yang dihasilkan bisa tidak akurat. Untuk itu disarankan agar mengkombinasikan parabolic SAR ini dengan indikator momentum atau tren lainnya.

Gambar 5

Parabolic SAR


Anda bisa coba kombinasikan indikator ini dengan Moving Averages untuk melihat bagaimana kekuatan tren yang sedang terjadi. Atau anda bisa gabungkan penggunaannya dengan indikator momentum lainnya seperti RSI dan Stochastic untuk menganalisa apakah pergantian momentum memang terkonfirmasi.

Anda bisa lihat pada gambar 5, dimana sinyal sell yang terjadi dibarengi oleh perpotongan garis Moving Average, sinyal sell ini diperkuat oleh kondisi bearish yang dihasilkan oleh perpotongan ke bawah garis Moving Average.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar