Rabu, 20 Juli 2011

Dow Theory

Umurnya sudah lebih dari 100 tahun dan teori ini telah banyak dijadikan dasar dalam melakukan analisa teknikal. Teori Dow diformulasikan dari serangkaian artikel di Wall Street Journal yang digawangi oleh Charles H. Dow dari 1900 sampai 1902, dimana ia meninggal dunia. Editorial dan artikel ini menggambarkan keyakinan Dow mengenai bagaimana pasar saham

Umurnya sudah lebih dari 100 tahun dan teori ini telah banyak dijadikan dasar dalam melakukan analisa teknikal. Teori Dow diformulasikan dari serangkaian artikel di Wall Street Journal yang digawangi oleh Charles H. Dow dari 1900 sampai 1902, dimana ia meninggal dunia. Editorial dan artikel ini menggambarkan keyakinan Dow mengenai bagaimana pasar saham berperilaku dan bagaimana pasar dapat dijadikan ukuran dalam melihat lingkungan bisnis.

Dow belum sempat menerbitkan teori lengkapnya terhadap pasar, tetapi beberapa rekan dan pengikutnya telah mempublikasikan hasil kerjanya yang telah diperluas ruang lingkupnya.

Dow yakin bahwa pasar saham secara keseluruhan adalah sebuah patokan yang terpercaya mengenai kondisi bisnis didalam ekonomi dan dengan menganalisa keseluruhan pasar, seseorang dapat dengan akurat melihat kondisi tersebut dan mengidentifikasi arah pergerakan pasar.

Teori pertamanya ia gunakan untuk membentuk Dow Jones Industrial Index dan Dow Jones Rail Index (sekarang indeks transportasi), yang sebenarnya dikumpulkan oleh Dow untuk Wall Street Journal. Dow menciptakan indeks-indeks ini karena ia merasa mereka adalah gambaran akurat dari kondisi bisnis didalam ekonomi karena mereka mencakup dua segmen ekonomi utama yaitu industri dan transportasi. Walaupun indeks-indeks tersebut telah mengalami banyak perubahan dalam 100 tahun terakhir, teorinya masih digunakan pada indeks pasar saat ini.

Banyak dari alat analisa teknikal yang kita kenal saat ini memiliki dasar dari teori Dow. Karena alasan ini, pelaku pasar dan trader seharusnya mengetahui enam elemen dasar dari Dow Theory.

I. Pasar Mendiskon Apapun
Elemen mendasar pertama dari teori Dow mengemukakan bahwa semua informasi, baik saat ini, masa lalu bahkan masa depan, telah didiskon atau diserap kedalam pasar dan tercermin pada harga saham dan indeks.

Informasi tersebut termasuk semuanya mulai dari emosi investor sampai ke data inflasi atau data ekonomi lainnya, juga pengumuman laporan keuangan perusahaan yang akan dibuat setelah pasar tutup. Berdasarkan asumsi ini, informasi yang tidak termasuk adalah sesuatu yang tidak diketahui seperti bencana alam. Tetapi bahkan resiko dari kejadian tersebut telah diserap kedalam pasar.

Penting untuk diingat bahwa ini tidak menggambarkan kemampuan dari pelaku pasar atau bahkan pasar itu sendiri untuk mengetahui kejadian di masa depan. Lebih kearah, dalam beberapa periode waktu, semua faktor yang telah terjadi dan diekspektasi akan terjadi telah diserap oleh pasar. Seiring adanya perubahan, seperti resiko pasar, pasar menyesuaikan hal ini dengan harga, merefleksikan informasi baru.

Ide bahwa pasar mendiskon apapun sebenarnya bukan hal baru bagi analis teknikal, karena ini adalah dasar yang digunakan oleh banyak alat analisa teknikal. Karenanya, dalam analisa teknikal, seseorang hanya perlu melihat pergerakan harga, dan tidak faktor lain seperti neraca keuangan.

Seperti analisa teknikal utama lainnya, teori Dow sangat berpatokan pada harga. Namun, teori Dow lebih menitikberatkan pada pasar secara keseluruhan daripada hanya beberapa saham tertentu.

Jadi teori Dow ini menitikberatkan pada analisa pasar secara keseluruhan melalui pergerakan harga sebuah indeks saham dari pasar modal. Juga patut diperhatikan bahwa teori Dow ini berfokus pada pergerakan harga dan tren indeks, implementasi juga bisa digabungkan dengan elemen analisa fundamental. Walaupun begitu banyak pihak mengatakan bahwa teori Dow lebih cocok sebagai alat analisa teknikal.

II. Pasar Tiga Tren
Bagian penting dari teori Dow adalah mengenali arah pasar secara keseluruhan. Untuk bisa melakukan ini, teori Dow menggunakan analisa tren.

Nah, dengan begitu anda harus mengerti terlebih dahulu mengenai metode analisa garis tren. harga memang bergerak dalam sebuah arah umum tetapi bukan berarti harga bergerak dalam garis lurus. harga akan cenderung membentuk harga tertinggi (peak) lalu kemudian membentuk low (trough), tetapi akan cenderung bergerak dalam satu arah.

Umumnya tren dibagi menjadi tiga jenis, yaitu naik (uptrend), turun (downtrend), dan menyamping (sideway trend). Agar pergerakan harga bisa diklasifikasikan sebagai sebuah tren naik, pembentukan harga tertinggi (peak) baru harus bisa lebih tinggi dari peak sebelumnya dan ketika pergerakan harga tersebut membentuk low (trough), trough ini tidak boleh melewati trough sebelumnya. Berlaku sebaliknya untuk tren turun.

Dow Theory

Teori Dow mengidentifikasi tiga jenis tren dalam pasar yaitu primer, sekunder, dan minor. Sebuah tren primer adalah tren yang paling besar dan bertahan lebih dari satu tahun, sedangkan tren sekunder adalah tren menengah yang bertahan tiga minggu sampai tiga bulan dan sering diasosiakan sebgai pergerakan yang berlawanan dengan tren primennya. Dan yang teakhir, tren minor, bertahan kurang dari tiga minggu dan diasosiasikan sebagai pergerakan didalam tren menengah.

Tren Primer
Dalam teori Dow, tren primer adalah sebuah tren mayor (besar) yang terjadi didalam pasar, dimana menjadi yang paling penting untuk ditentukan. Hal ini karena tren besar ini akan mempengaruhi semua pergerakan harga dan juga akan mempengaruhi tren sekunder dan minor.
Dow mengatakan bahwa tren primer biasanya akan berlangsung antara satu sampai tiga tahun tetapi masih bisa bervariasi.

Dengan tidak mengecualikan panjang waktu tren, tren primer masih akan memiliki efek sampai adanya konfirmasi pembalikan arah (reversal). Sebagai contoh, jika dalam sebuah tren naik harga ditutup dibawah harga terendah sebelumnya yang dibentuk melalui trough, ini dapat menjadi sinyal bahwa pasar bergerak ke arah bawah, dan tidak bergerak ke harga yang lebih tinggi.

Dow Theory

Dalam menganalisa tren, salah satu yang paling sulit adalah untuk menentukan seberapa lama pergerakan harga akan berlangsung dalam tren primer sebelum nantinya berbalik arah. Aspek paling penting adalah mengidentifikasi arah tren ini dan membuat posisi yang searah, bukan melawannya, ingat tren adalah teman, sampai adanya sinyal bahwa tren primer akan berbalik arah.

Tren Sekunder
Kalau tren primer adalah arah utama dalam pergerakan harga pasar. Sebaliknya, tren sekunder bergerak berlawanan arah denagn tren primer, atau sebagai koreksi dari tren primer.

Sebagai contoh, jika tren primernya adalah naik maka tren sekunder adalah pergerakan koreksi dari tren primer atau pembentukan harga terendah yang lebih tinggi dari harga terendah sebelumnya. Berlaku juga untuk kebalikannya jika tren primernya adalah turun.

Karena tren sekunder ini dianggap sebagai pergerakan koreksi dari tren primer, yang perlu diingat adalah pergerakan koreksi ini tidak menjadi pembalikan arah atau reversal.

Dow Theory

Secara umum, tren sekunder bertahan selama tiga minggu sampai tiga bulan, sedangkan retracement dari tren sekunder berkisar antara sepertiga sampai duapertiga dari pergerakan tren primer. Contoh, jika tren primer sebuah indeks saham bergerak dari 10,000 sampai 13,000 (3,000 poin), maka tren sekundernya diharapkan akan membuat indeks tadi turun setidaknya 1,000 poin (sepertiga dari 3,000 poin).

Karakter penting lainnya dari tren sekunder adalah pergerakan harga di tren ini cenderung lebih fluktuatif dibandingkan dengan tren primernya.

Tren Minor
Tipe terakhir dari tiga jenis tren dalam teori Dow, tren minor, umumnya berlangsung kurang dari tiga minggu. tren minor secara umum adalah pergerakan koreksi dari tren sekunder.

Karena tipikalnya yang jangka pendek dan fokus jangka panjang pada teori Dow, tren minor bukan merupakan perhatian utama bagi orang-orang yang menggunakan teori ini. Tetapi bukan berarti ini menjadi tidak relevan, tren minor harus diperhatikan karena menjadi bagian dari tren yang lebih besar yaitu sekunder dan primer.

Fokus dan perhatian utama dari teori Dow adalah tren primer dan sekunder, sedangkan tren minor hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Jika terlalu banyak berfokus pada tren minor, ini bisa memicu adanya transaksi yang tidak rasional karena trader perhatiannya akan terganggu oleh pergerakan harga jangka pendek dan kehilangan pandangan jangka panjang.


III. Tiga Fase Tren Primer

Karena tren primer adalah tren yang paling vital untuk dipahami, teori Dow mengkategorikan tiga fase yang terjadi didalam sebuah tren primer, yaitu fase akumulasi (distribusi), fase partispasi publik, dan fase pelampauan (excess). Coba kita tengok bagaiman aplikasi ketiga fase ini dalam pasar bullish dan bearish.

Pasar Bullish (Tren Primer Naik)
Fase Akumulasi
Fase awal terbentuknya pasar bullish adalah fase akumulasi, yang merupakan dimulainya pergerakan tren naik. Ini juga dianggap sebagai titik dimana investor-investor yang mengetahui mengambil posisi dipasar.

Fase akumulasi biasanya muncul diakhir sebuah tren turun, ketika semuanya terlihat buruk. Tetapi fase ini juga merupakan waktu ketika pasar berada dilevel paling menarik karena pada titik ini kebanyakan berita buruk telah diserap oleh pasar, karena itulah downside risk-nya menjadi terbatas dan menawarkan valuasi yang menarik.

Tetapi, fase akumulasi ini bisa menjadi sesuatu yang sulit untuk diidentifikasi karena muncul diakhir tren turun, yang bisa saja ternyata hanya pergerakan rebound atau tren sekunder bukan menjadi awal sebuah tren baru. fase ini juga dikarakteristikan dengan adanya pesimisme pasar yang kuat, dengan banyak investor berpikir bahwa kondisi hanya akan semakin buruk.

Dari sisi teknikal, awal dari fase akumulasi ini ditandai dengan dimulainya fase konsolidasi di pasar. Ini terjadi ketika tren turun mulai terlihat datar seiring dengan tekanan jual yang berkurang.

Sebuah tren naik baru akan dikonfirmasi jika harga tidak membuat harga terendah baru jika dibandingkan dengan harga terendah sebelumnya.

Fase Partisipasi Publik
Ketika investor-investor yang memiliki informasi masuk pasar pada fase akumulasi, mereka melakukannya dengan asumsi bahwa yang terburuk telah berakhir dan pemulihan akan terjadi kedepannya. Seiring dengan kenaikan di fase ini, tren primen baru masuk kdelam fase yang dikenal dengan istilah fase partisipasi publik.

Di fase ini, sentimen negatif mulai berkurang seiring dengan kondisi bisnis yang semakin baik. Jika kabar-kabar baik mulai mengisi pasar, akan ada lebih banyak investor yang akan kembali masuk pasar.

Fase ini bukan hanya menjadi fase terpanjang, tetapi juga salah satu yang dibarengi oleh pergerakan harga terbesar.

Fase Pelampauan
Seiring dengan semakin besarnya kenaikan harga yang disebabkan kondisi bisnis yang baik dan jumlah pelaku pasar yang masuk semakin banyak, disinilah fase pelampauan dimulai.

Fase terakhir dalam tren naik ini adalah waktu bagi investor pintar untuk mulai keluar pasar. Dititik ini persepsinya adalah semuanya berjalan sangat baik dan hanya hal baik yang ada didepan. Dititik ini juga biasanya pembeli terakhir masuk pasar setelah terjadi kenaikan harga yang besar. Sayangnya mereka membeli disaat harga mendekati nilai tertinggi.
Selama fase ini, banyak perhatian harus diberikan pada sinyal-sinyal akan adanya pelemahan karena bisa saja menjadi pertanda bahwa tren naik akan berakhir dan akan berganti menjadi tren turun.

Pasar Bearish (Tren Primer Turun)
Fase Distribusi
Fase pertama dalam pasar bearish adalah fase distribusi, periode dimana pelaku pasar yang telah mendapatkan keuantungan mulai menjual (mendistribusikan) posisi mereka. Fase ini berlawanan dengan fase akumulasi pada pasar bullish. Pada fase ini, sentimen keseluruhan masih terus optimis dengan ekspektasi bahwa pasar akan terus bergerak naik.

Sama seperti fase akumulasi, fase distribusi juga sulit untuk diidentifikasi ditahap-tahap awal. Sebuah tren penurunan akan terkonfirmasi jika harga gagal membentuk tertinggi baru dibandingkan dengan tertinggi sebelumnya.

Fase Partisipasi Publik
Fase ini juga tidak jauh berbeda dengan fase partisipas pada pasar bullish, hanya perbedaan mendasarnya adalah mulai banyak pelaku pasar yang melepas posisinya dan kondisi pasar semakin buruk serta sentimen menjadi lebih negatif. Pasar akan terus bergerak turun seiring dengan naiknya aksi jual pelaku pasar.

Fase Panik
Ini adalah fase terakhir dari tren bearish yang memiliki kecenderungan adanya kepanikan yang ditandai dengan adanya aksi jual dalam jumlah yang sangat besar dengan waktu yang relatif singkat. Dalam fase panik ini, pasar diliputi sentimen negatif termasuk data ekonomi yang lemah dan bisnis perusahaan yang memburuk.

Biasanya banyak investor akan melepas posisinya dengan 'kepanikan' dan mereka-mereka ini adalah yang masuk pasar di fase pelampauan. Tetapi ketika pasar terlihat dilevel terburuknya fase akumulasi biasanya dimulai dan tren primer naik bisa mulai menunjukkan dirinya dan ini artinya siklus berulang dengan sendirinya.

1 komentar:

  1. teori yang sangat bagus namum perlu dipahami dengan baik karena memang tidak mudah juga memahaminya, dangan belajar menambah wawasan trading dengan thread seperti ini maka pendangan terhadap konsep trading di octafx menjadi semakin solid

    BalasHapus